Setelah lama menunda, akhirnya aku menyempatkan diri untuk menonton The Wheel of Time, adaptasi serial fantasi Amazon Prime yang diangkat dari novel legendaris Robert Jordan. Dan… ya ampun, kenapa aku tidak menonton ini lebih cepat? Ada rasa penyesalan yang menggelitik karena terlambat merasakan gemuruh pertarungan antara Cahaya dan Kegelapan, tapi di sisi lain, kebahagiaan bisa "menelan" dua musim sekaligus dalam sekali binge-watching. Season pertama The Wheel of Time (2021) ibarat gulungan kain yang perlahan dibentangkan. Yang mencolok dari Season 2 adalah peningkatan skala konflik dan kedalaman karakter. Ancaman Forsaken (seperti Lanfear) memberi dimensi baru:musuh tak sekadar hitam-putih, tetapi penuh intrik. Dari Season 1 ke 2, The Wheel of Time berevolusi dari adaptasi yang "hati-hati" menjadi produksi yang lebih percaya diri.