fbpx

I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki: Cara Ideal Mengubah Penderitaan Menjadi Prestasi

February 24, 2021

Anda pasti sudah mengenal nama Baek Se Hee, bukan? Yah, dia adalah penulis buku esai berjudul I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki yang kemudian meledak penjualannya di Korea Selatan. Tidak lama, buku itu diterjemahkan ke berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia.

Yah, seperti di negara asalnya, buku I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki juga laku keras di negara-negara lainnya. Termasuk di Indonesia, ketika pertama kali dicetak pertengahan 2019 lalu.

Apa yang ditulis Baek Se Hee dalam buku itu? Nyatanya, Baek Se Hee adalah penderita semacam penyakit psikologis yang sangat aneh, langka dan entah bagaimana cara pengobatannya. Baek Se Hee menderita distimia yang dilengkapi dengan berbagai gejala lainnya semacam gangguan kecemasan, depresi dan sebagainya.

Ia mencoba melawan suasana hati yang kerap kurang minat, gangguan tidur, sering cemas, konsentrasi yang sangat kacau selama 10 tahun. Semua penderita ini mengikuti berbagai macam terapi dan pengobatan, tak terkecuali Baek Se Hee.

Selama mengikuti sesi konseling, Baek Se Hee mencatat semua saran, nasihat, evaluasi dan sebagainya yang ia dapatkan dari psikiaternya. Dan yah, sebagaimana seseorang yang menyerah dengan kehidupannya, Baek Se Hee juga sering terpikir untuk bunuh diri. Namun, ia sangat menggemari makan tteokpokki, kue beras asal Korea itu.

Bila Anda belum membaca buku ini, Anda bisa membaca sinopsis atau reviewnya di pranala ini: Review Buku: I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki karya Baek Se Hee oleh Ami Alifia.

Namun, terpenting adalah bagaimana seorang Baek Se Hee mengubah peristiwa kelam dalam hidupnya menjadi sebuah prestasi. Yah, ini adalah salah satu cara unik seorang penulis, yakni menulis semua rasa sakit yang menderanya, rasa kehilangan, kecewa, marah, termasuk bahagia. Dan hebatnya, tulisan itu bisa menginspirasi orang lain.

Hasilnya, Baek Se Hee mampu mengubah penderitaan selama 10 tahun itu menjadi sebuah kisah yang indah. Yah, buku ini tidak hanya mengajarkan kita untuk mencintai diri sendiri. Tapi juga mengajarkan satu hal; apapun itu yang ada di dalam hidupnya, adalah sebuah berkah. Termasuk: penderitaan!

Baca Selengkapnya

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Diah Irawati
Ibu dari seorang anak, istri dari seorang seniman teater. Kunjungi blog kami di Pojokseni.com dan Pojokreview.com.
pencilfilm-playpicturecalendar-fullscreen
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram