fbpx

Jangan-jangan Kamu Sedang di Fase Quarter Life Crisis

Belakangan saya lagi sering ngerasa hidup gitu-gitu aja. Beberapa kali scroll cari beasiswa magister, tapi terus saya tanya lagi dalam hati “emangnya mau kuliah lagi buat apa?” Saya tau sih orang kuliah itu tujuannya cari ilmu, bukan cari ijazah. Tapi sudut lain hati saya bilang “apakah saya bener-bener pengen kuliah lagi? Atau cuma demi ambisi?” Saya emang suka belajar. Tapi haruskah saya ambil S2?

Saya sering berada di persimpangan, antara pengen fokus mengasuh anak, membesarkan usaha rumahan saya, serius menulis, atau mengejar karir sesuai keilmuan saya. Atau semuanya dikerjakan bersama-sama dengan sempurna? Ya mon maap, orangnya perfeksionis. 🤣🤣

Saya kadang ngerasa nggak punya cukup waktu buat mengejar semua yang saya mau. Sementara orang lain bisa. Kadang, cuma menulis buat deadline lomba aja saya kewalahan. Kadang waktu berlalu begitu aja dengan bangun, memasak, mengurus rumah, menemani anak bermain, menemani anak tidur, menyuapi, memandikan, dan tau-tau batre saya udah abis, dan ketiduran. Lol.

Kok saya nggak berbuat apa-apa ya? Kayaknya dulu banyak hal positif yang saya lakuin. Kayaknya dulu saya punya banyak enerji buat ngelakuin banyak hal.

Kebingungan ini sebenernya udah saya rasa sejak beberapa bulan terakhir. Apalagi sejak temen bakulan saya suka wasap dan laporan “si A sekarang kerja di sini”, “si B usahanya maju banget”, atau “si C lagi ambil S3”.

Cuma kadang, saya selalu melipur diri dengan kalimat yang udah sering saya sebut di tulisan saya yang lain. “Nanti ada masanya. Di waktu yang tepat menurut Tuhan atas semua doa dan keringat yang sudah diperjuangkan”. Cuma namanya manusia ya bund 🤪 Banyak lupanya daripada ingetnya wqwqwq.

Kemarin malem saya sampe DM temen kuliah saya:

👩: Lo sebagai ibu pekerja pernah nggak sih ngerasa krisis identitas, atau nggak tau apa yang lo pengen? Soalnya gue sebagai ibu yang di rumah aja kok rasanya hidup gini gini aja ya.

👩‍🦰: Hmmmm… Kalo menurut gw case kayak gini karena kita ngerasa nggak cukup sama apa yang kita punya nggak sih? Coba deh lo kulik lagi apa yang sebenernya lo pengen.

Hmmm…. Apa ya yang saya pengen? Kesempurnaan di semua hal?

Tanda Kamu Ada di Masa Quarter Life Crisis

Saya akhirnya baca-baca artikel di internet, dan tau kalo mungkin saya sedang ada di fase Quarter Life Crisis (QLC). QLC adalah sebuah periode dimana seseorang cemas, ragu, gelisah, dan bingung terhadap tujuan hidupnya (hellosehat.com). Nggak cuma itu, periode ini juga membuat seseorang sering mempertanyakan eksistensinya sebagai manusia (alodokter.com). Waww so me. Wqwq.

Biasanya periode QLC dialami oleh usia 20-30 tahun, atau bisa di bawah itu walaupun jumlahnya sangat jarang. Ada beberapa hal yang menyebabkan manusia masa kini sering mengalami QLC. Seperti dinyatakan Atwood dan Scholtz (tirto.id), ketika segalanya cenderung mudah didapat, maka kepuasan seseorang pun makin susah terpenuhi.

Dasawarsa ini kita disajikan berbagai kemudahan hidup. Dari akses pendidikan, teknologi, kesehatan, dan peluang kerja. Kalo jaman dulu bekerja cuma perkara mencari uang untuk memenuhi kebutuhan keluarga, di masa sekarang pekerjaan dirasa milenial harus memenuhi kebutuhan aktualisasi, atau bahkan menjadi jalan mewujudkan mimpi.

Beberapa tanda kalo mungkin buk ibuk sedang mengalami fase QLC seperti dikutip dari hellosehat.com adalah:

1. Mulai mempertanyakan hidup

Orang yang terjebak dalam QLC sering bertanya-tanya apa yang sebenarnya di cari dalam hidupnya. Atau apa yang sudah diberikan kepada sekitar. Atau bahkan pencapaian apa saja yang sudah dimiliki. Pertanyaan-pertanyaan tersebut sebernya cuma bermuara ke satu hal sih. Masalah eksistensi sebagai manusia, dan individu. Kadang mengingat semua hal ini membuat saya merasa “kosong”.

2. Merasa jalan di tempat

Ini saya banget! HAHAHAHAHA. Saya selalu merasa terjebak, dan nggak punya jalan keluar. Saya pengen melakukan A, B, C, D, tapi selalu berakhir dengan “tapi kalo saya gini, nanti….” Saya selalu merasa apapun yang saya lakukan mentok. I’ll try my best, tapi hasil yang saya dapat nggak sesuai harapan, dan ujungnya jadi selalu membandingkan dengan hidup orang lain. Tapi, mau keluar dari zona nyaman kok nggak berani! Iya. Nggak jelas banget emang. 😑

3. Kurang motivasi

Biasanya orang yang berada dalam quarter life crisis akan kehilangan motivasi. Bahkan buat sekedar ngelakuin hobi pun males. Kalo saya sebenernya masih punya cukup motivasi buat “berjuang” sih. Banyak malah. Soalnya saya ngerasa, saya harus bisa mengejar ketertinggalan dari temen-temen. Cuma kalo terus inget kalo hasilnya nggak pernah sebanding sama effort, baterai motivasinya langsup drop. Butuh kopinya Merry Riana 🤪.

4. Merasa terombang-ambing

Nah ini! Wakakaka. Terombang-ambing nih bisa karena urusan finansial yang besar pasak daripada tiang, atau masalah percintaan. Ternyata meragukan apakah buk ibuk udah memilih partner hidup yang tepat atau belum juga pertanda kita ada di fase QLC!

Jadi belakangan nih saya lagi sering nonton serial. Mana serialnya yang cinta menye menye anak muda. Udah paham sih mana ada kisah cinta yang segitu sweet-nya. Tapi kadang kebawa baper. Endingnya jadi suka bandingin sama suami sendiri. Terus jadi merenungi “andaikan aku menikah sama Reza Rahadian uhhhh gemassshnya“. Lol. Suami jadi selalu terlihat kurang. Kurang banyak ngasih duit jajannya. 🤣

 

Cara sukses menghadapi Quarter Life Crisis

Terkurung dalam Quarter Life Crisis lama-lama nggak baik. Karena kita bakal selalu merasa kurang, dan nggak bersyukur dengan apa yang udah dicapai, dan dimiliki. Dua hal itu juga bikin kita sering mengeluh, dan menutup diri karena merasa nggak punya kualitas sebaik orang lain.

Ada beberapa hal yang bisa kita lakuin supaya terhindar dari Quarter Life Crisis yang berkepanjangan.

 

1. Kurangi bermain media sosial

Hayo siapa yang gampang banget ke-trigger dari postingan temen? Nggak bisa dipungkiri media sosial punya pengaruh besar pada kondisi psikologis seseorang.

Menurut studi yang dipublikasikan dalam International Journal of Mental Health and Addiction yang ditulis oleh Sujarwoto, Gindo Tampubolon, dan Adi Cilik Pierewan, menyebut bahwa penggunaan media sosial yang berlebih dapat menyebabkan depresi (m.cnnindonesia.com). Selain itu psikolog klinis Linda Setiawati juga menilai jika penggunaan media sosial yang berlebih akan berdampak negatif pada penggambaran diri yang kurang baik.

Sejak media sosial semakin banyak user-nya, kita jadi semakin mudah melihat pencapaian orang lain, dan akhirnya membandingkan dengan kondisi diri sendiri. Pencapaian dan sukses menjadi sangat material, dan cuma dinilai berdasarkan postingan medsos semata.

Sadar nggak sadar kita jadi selalu terpacu untuk mengejar orang lain. Padahal kita udah punya timing masing-masing dalam porsi yang tepat. Lagian banding-bandingin diri sendiri sama orang lain nggak bakal ada abisnya. Yang ada dia grow up and glow up, kita cuma sibuk ngeliat kekurangan kita. Sampe lupa kita juga punya ‘materi’ yang sama istimewanya.

2. Mengenali Diri

Kenali apa yang menjadi kelebihan, dan kekurangan diri sendiri. Renungkan apa yang pengen dituju jiakkkkh. Kalo udah punya satu tujuan, kita jadi tau nih harus apa, gimana, dan harus kasih effort seberapa besar. Nggak usah liat tetangga kanan kiri. Nanti ujungnya galau, dan ubah haluan.

3. Bercerita

Nggak ada obat mujarab dari keruwetan hidup selain bercerita (dan duit HAHAHA lol). Bercerita emang nggak selalu menyelesaikan masalah, atau membuat keraguan yang ada di diri buk ibu sekejap lenyap. Tapi sebagai makhluk sosial, dan komunal, bercerita seenggaknya mengangkat sedikit beban yang selama ini ditanggung sendirian. Plus, siapa tau buk ibuk dapet insight baru dengan bercerita ke teman.

4. Membuat rancangan hidup

Nggak perlu bikin rancangan hidup sampe 30 taun ke depan. Kejauhan. Kalo saya sih bikin target buat 5 taun ini. Saya tulis dalam bentuk poin-poin apa aja pencapaian yang pengen saya dapet, atau hal-hal yang pengen saya lakuin. Dengan ditulis, apa aja yang harus saya kerjakan, dan realisasikan jadi lebih jelas, dan tertata. Kalo saya pengennya sih dalam 5 taun ini saya udah bisa remote ngurusin gobake. Aminin dong buk ibuk. 😚😚

5. Do it!

Terjebak dalam Quarter Life Crisis adalah hal yang wajar. Kita punya dua pilihan. Menjadikan QLC sebagai motivasi agar bisa jadi pribadi yang lebih baik lagi. Atau malah membiarkan QLC mengganggu hidup kita.

Makanya, percaya aja kalo kita pasti bisa menaklukkan mimpi kita sendiri. Cari tau caranya, dan yukkk lakuin sekarang! 😊

 

Referensi:

 

https://tirto.id/quarter-life-crisis-kehidupan-dewasa-datang-krisis-pun-menghadang-dkvU

 

https://www.alodokter.com/memahami-quarter-life-crisis-dan-cara-menghadapinya

 

https://m.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20190626100119-255-406497/medsos-sebabkan-gangguan-mental-pada-orang-indonesia

Baca Selengkapnya

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Kita Ceritain

Bener banget ini Nggak usah liat tetangga kanan kiri. Nanti ujungnya galau, dan ubah haluan. wkwkw kita sering menganggap bahwa "grass is greener on the other side" soalnya. Gimana supaya ga sering begitu ya?

carissa savitri
Seorang ibu beranak dua yang tinggal di lereng gunung Slamet. Mengisi hari-harinya dengan menulis, memasak, membuat kue, dan menemani anak bermain 😊
pencilfilm-playpicturetagcalendar-fullscreen
1
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram