fbpx

Kisah-kisah Musim Sang Pengelana

21 June, 2022

Malam ini aku kembali terkenang, pada masa pengembaraanmu menaklukkan samudra. Kau ingat? Pada waktu itu, disalah satu belahan bumi sedang musim semi. Kau lari pontang-panting, sembari lalu-lalang mengurus semua perbekalan dengan matang. Aku tidak bisa melupakan betapa antusiasnya dirimu dan tak bisa pula menghentikan. Sebab kau begitu menyukai bunga-bunga, sedangkan di sini gersang; bumiku sedang kemarau.

Saat disalah satu belahan bumi sedang musim gugur, kau kembali menyiapkan berbagai perbekalan. Dari pagi hingga pemberangkatan, kau bersenandung seolah-olah tengah melakukan pertunjukkan drama musikal terbaik dikelasnya. “Aku akan melihat pohon-pohon meranggas,” ungkapmu bersemangat. Wajahmu begitu gembira. Aku hanya tersenyum. Sebab ada hal baru yang kutahu tentangmu. Kau juga menyukai pohon-pohon meranggas, sedangkan bumiku tengah musim hujan.

Suatu kali, disalah satu belahan bumi sedang musim dingin. Tepat di tengah malam yang begitu gelap, aku terbangun oleh suara ketukanmu. “Berikan padaku pakaian yang paling tebal,” ungkapmu tanpa ekspresi. Dalam seketika aku hanya bisa mengerutkan dahi. “Bukankah jaketmu sudah tebal?” Kau hanya menggeleng tanpa berkata-kata, lantas pergi dan mengobrak-abrik sendiri. “Aku ingin merasakan salju,” nyawaku yang belum genap hanya ikut saja. Bukannya tak mau tahu, tapi tak ingin sedekitpun mengganggu gairahmu.

Ya, tentu saja tubuhku masih mengingatnya. Bagaimana denganmu? Waktu itu belum juga matahari berdiri di singga sananya, kau membuatku terperanjat. Tiba-tiba saja kau merampas topi pandan yang damai di kepalaku. “Cuacanya sangat cerah, ya?” tuturmu sembari mengamati langit bersih. “Boleh kupinjam, aku ingin melanglang samudra” lanjutmu dengan gembira. “Tapi itu bukan topi pelaut” upayaku mencoba mengambil kembali, tapi gagal dan kau tak peduli. Bahkan tanpa memandangku barang sedetik, dengan cepat mengaitkan tas ransel yang tengah berbaring di kursi beranda.

“Bukankah kamu menyukai bunga-bunga? Lihatlah mereka yang bermekaran di sana, indah bukan?” kali ini aku tak ingin mengalah dan mengikuti jejak-jejak langkahmu. Setidaknya di musim ini saja, kau tidak akan pergi. “Aku akan pulang,” ungkapmu menenangkan.

Bukankah kau pun tahu, barang kali kapal yang kau tumpangi berlabuh diribuan dermaga? Sewaktu-waktu berlabuh atau tetap mengapung di samudra. “Lalu bagaimana denganku?” ujarku lirih, sampai-sampai aku tak tahu apa akan terdengar oleh alat indramu. “Aku akan kembali” ucapmu lagi. Namun entahlah, anehnya kini aku tak berterima bila kau harus pergi lagi.

“Tetap saja, kau bukanlah nakhodanya!” Ya, aku bersalah. Seharusnya tidak membentakmu. Semestinya aku bersikeras menahanmu pergi, bukannya berbalik dan mengurung diri di balik pintu. Akan tetapi kau pun tak selamanya benar. Sepatutnya kau mengejar, bukannya hanya memandangku dan beranjak ke antah-berantah sana.

Kini, tak tahu harus berbuat apa. Ragaku telanjur terombang-ambing. Dalam jiwa sayup-sayup terdengar ringkihan demi ringkihan; perih. Sukma pun tak dapat lagi berbicara dengan benar. Tiap detik, tidak ada yang kulakukan selain menghabiskan waktu menyulam bait-bait luka dan rindu untukmu. Sebab aku percaya, kau akan kembali. Entah dari arah dan dermaga mana kau akan datang. Bisa jadi, kau akan datang melalui puisi yang kutulis dari himpunan kenangan ini; pun kau akan pulang seperti musim-musim sebelumnya.

Sebab aku masih di sini, sembari memahat kenangan di beranda. Melalui cerita-cerita perjalananmu dan kisah-kisah kepergianmu. Lantaran berkatmu pula  aku terpasung. Tak bisa hengkang dan terpenjara dalam dekapan asmara.

Bagaimana musimmu di sana, apakah kau baik-baik saja?

Baca Selengkapnya
Next Post:

Menjadi Aku

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Titik Literasi
Tidak ada informasi member
pencilfilm-playpicturetagcalendar-fullscreen
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram