Ada sesuatu yang terasa seperti magic saat kaki saya pertama kali menginjakkan kaki di tanah Turki bulan Desember kemarin. Udara musim gugur yang super segar, tidak menusuk tapi cukup membuat saya merapatkan jaket tipis yang saya gunakan dari Indonesia, untuk menyambut di pintu kedatangan. Awal dari perjalanan yang selama ini hanya saya lihat di kartu pos: perpaduan antara sejarah ribuan tahun dan warna alam yang berubah keemasan.
Perjalanan ini dimulai dengan penerbangan malam menggunakan Turkish Airlines. Selama belasan jam di udara dan tentunya dimanjakan dengan pelayanan yang luar biasa. Pramugarinya sangat sigap, makanan yang disajikan menurut saya sangat premium, dan yang paling berkesan adalah amenities kit-nya yang sangat lengkap bernuansa Turki sesuai dengan lokasi tujuan saya. Ini jauh di atas ekspektasi saya untuk sebuah perjalanan panjang.
Istanbul: Kota Dua Benua
Perjalanan dimulai dari Istanbul. Begitu keluar dari bandara dan menyusuri jalanan kota, pikiran saya langsung bergumam; am i in Europe? Arsitektur bangunan megah, pedestrian tertata yang memberikan kesan saya sedang berada di benua Eropa.
Namun, begitu saya melangkah lebih jauh ke area Sultanahmet, ada sebuah perpaduan unik yang sulit dijelaskan. Di satu sisi saya merasa sedang berada di Eropa, namun di sisi lain, aroma rempah dan suara adzan dari menara-menara masjid memberikan vibes Timur Tengah yang sangat kental. Itulah kerennya Istanbul! berdiri di antara dua dunia.
Satu hal yang menurut saya unik dan hanya ada disini adalah: banyak anjing lucu dan menggemaskan! Untuk lebih lanjut artikelnya saya bahas disini ya:
Istanbul Story: Pengalaman Unik Bertemu Anjing Liar di Jalanan Turki - rsjournal
Sore itu, udara musim gugur mulai terasa cekit-cekit. Untuk menepis rasa dingin dengan jaket tipis saya, saya mampir ke Sariyer Börekçi (toko penjual börek) kecil di sudut jalan dan memesan sesuatu yang baru, yang nampaknya adalah makanan rekomendasi ala Istanbul: seporsi Su Böreği yang masih panas! Lapisan pastri lembut dengan isian keju yang lumer dan tambahan secangkir Kopi Turki yang pekat.
Lanjutkan membaca: Musim Gugur di Turki: Catatan Perjalanan dari Istanbul ke Cappadocia - rsjournal