fbpx

Ningrum

November 12, 2020

Pintu sudah dikunci, tapi baju-baju sekolah Ningrum belum diangkat dari jemuran. Tidak ada yang peduli. Sementara mendung pekat tinggal menunggu satu helaan napas untuk mengalirkan berkubik-kubik air hujan.

Jam dinding belum juga sampai di angka tujuh saat Sunar dan istrinya, Suratun sudah tidak bersuara. Memilih lelap setelah seharian mburuh tandur di sawah milik Kiai Sukardi. Sementara kamar Ningrum yang hampir kedap suara, membuatnya tak menyadari kedatangan angin ribut yang mulai meggerayangi kampung.

Baca Selengkapnya

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Rizka Hidayatul Umami
morfobiru.com adalah blog yang saya rintis sejak beberapa tahun lalu. Berisi beberapa catatan harian, ulasan dan sastra. Saya menyenangi dunia tulis menulis dan isu-isu perempuan, tapi lebih sering saya ungkapkan lewat cerita pendek dan puisi.
pencilfilm-playpicturecalendar-fullscreen
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram