Berbelas tahun lalu, saat saya masih SD, saya diajak teteh sepupu ke warnet untuk menemaninya mengerjakan tugas. Di sana, dia berselancar membuka gambar-gambar Kampung Naga dengan banyak rumah adat yang berjajar rapi, dibangun berundak dengan model bangunan yang serupa semua. Apakah dulu tempat ini banyak naganyakah? Atau cerita rakyatnya berkaitan dengan naga? Apakah warga kampungnya menggunakan baju serbahitam dan tak pakai sendal?
Bertahun-tahun rasa penasaran itu tersimpan dalam ingatan, tapi bertahun-tahun itu pula saya tidak menyengajakan diri untuk datang ke sana, padahal beberapa tahun lamanya saya pernah tinggal di Tasik, kota tempat Kampung Naga ini berada.
Jadi, bagaimana akhirnya saya datang ke tempat ini? Ketika itu, saya dan kumpulan teman kuliah saya gagal untuk berangkat ke Baduy (seperti kebanyakan kaum remaja kolot usia 25+ yang masih young dan free—yang tiba-tiba aktif naik gunung, tiba-tiba jadi atlet, atau tiba-tiba ingin berkunjung ke sana dan ke sini). Meski sempat sedih, saya coba mencari tempat lain, atau minimal versi lite Baduy, yang masih bisa dijangkau dengan vibe yang sama. Akhirnya, saya memutuskan untuk pergi ke Kampung Naga (karena kebetulan saat itu sedang berkunjung ke rumah nenek) dan mengajak sahabat SMA saya yang sejak awal masuk sekolah hingga lulus sebangku terus~
Perjalanan Menuju Kampung Naga
Meskipun masih di Tasik, waktu tempuh yang kami lalui saat itu membutuhkan 1,5 jam perjalanan menggunakan motor. Itu berarti, kami perlu waktu 3 jam untuk pulang dan pergi, dan selama itu pula teman saya yang menyetir—memang saya teman yang ga tau diri (maaf banget Ceu Ain, nanti diusahain belajar ngendarain motor meski ga berani-berani T_T).
(selengkapnya di blog)