Oleh: Nayra Q Azra (Nra_rull)
Ada fase dalam hidup ketika hari terasa lebih panjang dari biasanya
Bukan karena terlalu banyak aktivitas, tapi justru karena terlalu sedikit yang benar-benar mengisi hati š
Kita menyebutnya sepi.
Sepi itu aneh ya
Ia tidak selalu datang saat kita sendiri
Kadang, ia justru hadir di tengah-tengah keramaian di antara tawa, di antara sela percakapan, bahkan saat notifikasi terus berbunyi
Dan di titik itu, manusia mulai lelah
Bukan lelah karena menjalani hidup, tapi lelah menanggung rasa yang seakan tidak punya tempat pulang
Lalu tanpa sadar, kita mulai mencari
Bukan lagi mencari yang tepat tapi yang ada tapi mencari sesuatu yang dapat mengisi kekosongan itu
Disaat-saat seperti ini banyak orang mengambil langkah atau keputusan keliru... Mereka mulai menurunkan standar-standar yang dulunya merasa tidak cocok perlahan mulai mempertimbangkan. Yang dulunya bukan menjadi tujuan kini di beri ruang hanya karena " setidaknya ada yang menemani"
Padahal ditemenin orang yang tidak tepat tidak benar-benar menghilangkan sepit itu, ia hanya mengubah bentuk
Dari sepi karena sendiri menjadi sepi karena tidak di pahami, dan itu jauh lebih melelahkan
Dalam Islam, perasaan sepi bukan sesuatu yang harus segera āditutupā dengan kehadiran manusia.
Justru, ada momen di mana Allah menghadirkan sepi
agar kita kembali menyadari satu hal penting:
bahwa tidak semua kekosongan harus diisi oleh manusia.
Allah berfirman:
āIngatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.ā (QS. Ar-Raād: 28)
Ayat ini tidak mengatakan bahwa ketenangan itu datang dari pasangan, atau dari hubungan, atau dari seseorang yang selalu ada
Tapi dari kedekatan kita dengan Allah
Mungkin kita sering kali keliru memahami. Kita mencari manusia untuk menenangkan hati, padahal hati itu sendiri belum kita dekatkan kepada Penciptanya
Akhirnya, ketika manusia itu tidak mampu memenuhi ekspektasi itu, kita kecewa.
Bukan karena mereka sepenuhnya salah,Ā tapi karena kita menaruh harapan di tempat yang tidak semestinya
Rasulullah saw juga mengingatkan tentang pentingnya memilih dengan dasar yang benar
āWanita dinikahi karena empat hal⦠maka pilihlah karena agamanya, niscaya engkau beruntung.āĀ (HR. Bukhari & Muslim)
Maknanya bukan sekadar memilih yang ābaik secara agamaā, tapi juga tidak menjadikan perasaan sementara ituĀ sebagai dasar utama dalam menentukan pasangan
Karena pernikahan dalam Islam bukan tentang menghilangkan sepi, melainkan membangun ketenangan (sakinah), yang lahir dari iman, bukan sekadar rasa
Tidak semua kehadiran itu adalah jawaban. Tidak semua kedekatan adalah ketenangan
Ada orang yang datang hanya untuk mengisi waktu, bukan untuk berjalan jauh.
Ada yang terlihat peduli, tapi tidak benar-benar mengerti.
Dan ada juga yang membuat kita merasa ātidak sendirianā, tapi diam-diam menjauhkan kita dari diri sendiri dan bahkan dari Allah
Sepi memang tidak nyaman.
Tapi ia bukan musuh kita, Kadang, sepi adalah ruang , Ruang dimana kita bisa mengenal diri kitaĀ lebih dalam lagi dan berdamai dengan luka yang belum sempat disembuhkan, juga memperbaiki hubungan kita yang paling utama yakni hubungan kita dengan Allah
Karena kalau sepi saja belum bisa kita hadapi dengan iman, lalu bagaimana kita akan membangun hubungan yang sehat?
Hubungan bukan tempat pelarian teman-teman
Ia adalah tempat pulang.
Dan rumah yang baik⦠tidak dibangun dari rasa takut sendirian, melainkan dari hati yang sudah tahu ke mana ia harus kembali
jika hari ini kamu merasa sepi, tidak apa-apa.
Dekatlah sedikit lebih lama dalam sujudmu. Perpanjang doamu, meski hanya dengan kata-kata sederhana.
Karena bisa jadi, yang kamu butuhkan bukan seseorang yang datang, tapi hubungan yang diperbaiki. Dengan Allah