fbpx

Talk About Book - Loving the Wounded Soul by Regis Machdy

6 November, 2021

Buku yang baru aja selesai gue baca adalah buku self-improvement dengan judul “Loving the Wounded Soul (Alasan dan Tujuan Depresi Hadir di Hidup Manusia)”, karya Regis Machdy. Mungkin sudah pada tahu, bahwa Regis Machdy adalah co-founder dari website pijarpsikologi.org yang berfokus pada penyediaan informasi serta konsultasi psikologi gratis di Indonesia.

Alasan gue tertarik baca buku ini, jelas sekali karena judulnya. Disclaimer, ya, bahwa gue bukan penderita depresi. Namun gue takut kalau suatu saat gue bakal ngalamin itu. Ada beberapa potensi yang bisa bikin gue mungkin saja akan masuk ke lembah hitam bernama depresi. Di antaranya adalah kecemasan berlebihan yang gue alami, sebut saja anxiety. Nah, anxiety ini berhubungan juga  penyakit gerd (Gastoesophaghal reflux disesase) akut gue, serta hal lain-lain yang tidak bisa gue sebut di sini, ya. Loh, tapi apa hubungannya, sih, depresi dengan gerd? Wah, ada banget, hehehe.

Dijelaskan juga dalam buku ini, pada bagian ciri-ciri depresi, bahwa kecemasan yang terus menerus dapat membuat asam lambung naik, sehingga banyak sekali ketidaknyamanan fisik yang dirasakan oleh seseorang yang cemas berlebihan. Di buku ini, penulis mengatakan kalau ia merasakan tenggorokan yang selalu panas. Berbeda dengan gue, yang kalau ada suatu hal yang membuat gue cemas, panik, maka yang gue rasakan adalah sesak nafas, dispepsia, sendawa tanpa henti, mual, hingga muntah. Begitulah gue menyadari bahwa diri gue butuh sedikit informasi serta pencerahan mengenai apa yang gue alami ini. Tingkat stres yang tinggi, tekanan dalam hidup dari berbagai pihak membuat gue ingin lebih tau apa itu depresi. Dan buku ini membantu sekali.

Dalam buku ini, banyak sekali teori-teori yang dirangkai dengan amat jelas oleh Regis, sehingga pembaca yang awam sama sekali mengenai depresi akan dengan mudah memahaminya. Dimulai dari bagian pengetahuan umum tentang apa itu kesehatan mental, lalu ciri-ciri depresi, faktor biologis, faktor eksternal, serta bahasan dalam sudut pandang keimanan. Regis juga banyak sekali memberikan contoh yang sangat relate dengan apa yang sedang gue alami. Di beberapa part gue sempat menangis karena membayangkan betapa sulitnya menjadi penderita depresi seperti Regis. Serta menangis karena gue sadar bahwa ternyata gue juga merasakan hal itu.

Bagian "Toxic Relationship" juga really hit me so hard. Apa yang ditulis oleh Regis kerasa relate banget sama gue. Toxic Relationship di sini maknanya luas, ya. Bukan hanya relationship antara kita dan pasangan saja, tetapi dengan semua relasi yang ada di kehidupan kita. Part selanjutnya yang bikin gue bercucuran air mata adalah part di mana Regis berkonsultasi dengan psikolog yang dipanggil Regis dengan Mbak Lita. Bagian dimana mbak Lita mulai menuntun Regis untuk mengingat semua kejadian terkait penolakan yang Regis alami semasa hidup. Mulai dari hari ini, hingga ia masih di dalam kandungan. Semua cerita Regis semasa  hidup tersebut betul-betul menyentuh hati gue. I felt that we are the same. And I cried until I finished that chapter. Ternyata apa yang dilakukan mbak Lita terhadap Regis ada hubungannya dengan depresi faktor eksternal. Di mana bisa saja luka batin yang kita rasakan, adalah luka batin yang diturunkan oleh orang tua kita sendiri, bahkan oleh ibu kita sendiri ketika kita masih dalam kandungannya. Dari sini, gue jadi paham dan mulai menerima apabila mendapat perlakuan dari siapapun, terutama dari orang tua, bahwa mereka bersikap seperti itu disebabkan karena orang tua merekapun dahulu bersikap seperti itu. Ketika luka batin tersebut belum hilang, lalu mereka secara tidak sadar dapat “men-transfer” luka tersebut ke kita. Tugas kita dari sekarang adalah menyetop luka tersebut. Memutuskan luka batin yang sudah kita terima, sehingga keturunan kita nantinya bisa hidup dengan damai.

To continue your reading, please visit my blog. Thank you.

 

Baca Selengkapnya

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Cita Nisa Wahdani
Sometimes I don't have friends to tell my stories, so I made my blog.
pencilfilm-playpicturecalendar-fullscreen
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram