fbpx

What's going on in (imperfect) Self Comparison?

23 July, 2021

 “Orang-orang kalo belajar pada berapa jam, sih?”

“Kalo dibandingin dia belajarku dikit banget, ya.”

“Haduh, duit segini aja, perasaan ini seleb duitnya kaga abis-abis.”

“Dia enak banget keterima di ptn sana-sini.”

            Psikolog Leon Festinger bilang, bahwa manusia punya kecenderungan untuk mengevaluasi dirinya sendiri dan seringnya dibandingin sama orang lain. Manusia juga kadang menetapkan tolak ukur untuk kondisi-kondisi yang dihadapinya saat ini. Tolak ukur ini antara diri sendiri sama orang yang bisa aja deket atau mungkin artis-artis yang dilihat di sosial media.  Kalau kita baca jurnal yang judulnya, Social comparison, social media, and self-esteem, studi kasus satunya nunjukin, pengguna yang sering mengakses Facebook keseringan, lebih punya sedikit kepercayaan diri, dibanding mereka yang lebih engga sering ngakses. Hal ini , ya, karena self comparison itu sendiri sangat difasilitasi sama Facebook (baca : sosial media).

            Then, jelasnya, apa sih self comparison itu? Ya, tadi, bandingin diri sendiri. Sama siapa? Siapapun. Apa yang dibandingin? Apapun, bisa kemampuan, kebolehan, kepintaran, pencapaian, atau bahkan usaha yang dilakukan. Ya, sebagai manusia, secara alami memang kita suka ngulik-ngulik info, “Eh apaan, tu?”, kira-kira gitu.

            Pas mau mulai belajar hal baru, misal bahasa asing, kita ngulik-ngulik dulu, “Mukidi (bukan nama asli) udah jago bahasa ini bukan, sih? Lah aku kaya jerami diantara jarum dong, nanti?” Awalnya begitu, tapi kita lanjut belajar aja. Eh sebulan, dua bulan, tiga bulan, lah kok ga jago-jago, dia kok udah fafifu waswiswus pake bahasa itu? Terus kita bisa aja ada di salah satu dari dua kondisi. Pertama, “Ah, males, kaga keliatan hasilnya.” atau kondisi 2, “Kudu bisa nih, bakal nandingin Mukidi pokoknya!” Sering?

            Perbandingan ini ada dua tipe, yaitu ke orang yang lebih dari kita dan ke orang yang kurang dari kita.  Upward social comparison adalah saat kita bandingin diri sendiri sama orang yang kita percaya lebih baik dari kita. Orang yang melakukan ini kadang berharap bahwa mereka bisa belajar memperbaiki diri dan secara ngga langsung ningkatin dirinya. Seperti yang tertulis di For better or worse : The impact of upward social comparison on self-evaluations, orang melakukan upward social comparison dengan harapan mereka dapat meningkatkan self-assessment mereka. Kita juga berharap bisa mencapai hasil lebih atau paling tidak sama dengan mereka (yang kita jadikan perbandingan). Tapi ... tapi ... alih-alih menjadi termotivasi seperti itu, kadang upward social comparison juga bisa menimbulkan evaluasi yang negatif. Parahnya, ya, itu, kehilangan kepercayaan diri.  Hal ini ngebuat kita merasa tertekan dan males. Dengan begini, kita bisa ngerasa usaha atau pencapaian kita selalu ga cukup bahkan kehilangan gairah untuk meraih tujuan yang kita impikan.

            Jenis satunya adalah downward social comparison. Bandingin diri sendiri sama orang yang worse off than us yang terkadangnya ngebuat kita ngerasa apa yang kita miliki ini lebih baik atau cukup. Memang apa yang ada di tangan kita itu ga seberapa tapi seenganya lebih baik lah dari orang yang kita jadikan perbandingan. Lewat downward social comparison, kita dibuatnya ngerasa superior dan menolak untuk menantang diri berbuat dan berusaha lebih dari yang sekarang. Di sisi lain, downward social comparison ngebuat kita merasa bersyukur karena ternyata ada yang lebih kurang dari kita. Permisalannya bisa dari segi ekonomi (yang paling sering), prestasi akademik, dan hal-hal sejenis usaha dan belajar.

”People compare themselves to those who are better when they want inspiration to improve, and they compare themselves to those who are worse when they want to feel better about themselves.” – Kendra Cherry

            Buruknya self comparison adalah perbandingan yang terjadi seringnya imperfect. Kita ga lihat keselurahan variabelnya dan seluruh realitasnya. Kalo buat kita, lika-likunya kita tahu karena memang kita yang ngejalanin, tapi kalo orang lain? Walau teman deket, aku ga jamin, kalian tahu seluruh realitas yang mereka alami. Seluruh yang aku maksud bener-bener keseluruhan; lingkungan, materi, fisik, mental, dan lainnya.

Kadang menjadi kerasa kurang karena yang kita pengen adalah menjadi lebih. Maka, jadilah menjadi lebih dengan cara yang ngga ngebuat kita ngeremehin diri sendiri dan cara yang ngga ngebuat kita ngerendahin orang lain.

Baca Selengkapnya
Previous Post:

Passion

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Dyah Ayu Citra Maharani
I'm a learner and currently a student. This INTP teen is 17 years of age. I fancy watching movies, reading books, and writing some things.
pencilfilm-playpicturecalendar-fullscreen
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram