Blog Untuk Arsip Puisi

April 16, 2021
  1. Ngeblog untuk arsipkan puisi

Dulu sebelum mengenal blog, semesta mengenalkan aku pada beberapa media sosial. Disana aku sering membagikan quotes, puisi atau kata-kata puitis yang membuat sebagian teman  merasa geli membacanya.

Sejak usia remaja memang sudah senang menulis puisi, alasannya karena pengen mengunkapkan sesuatu tapi gak berani bilang yang sebenarnya. Jadilah puisi yang menimbulkan multi-tafsir yang sebagian orang menganggap itu lebay.

Karena mungkin saking terlalu seringnya update status ada teman yang menegur katanya terlalu ‘lebay’ lah, suka ‘galau’ lah, itulah. Memang sedang galau tapi inti masalahnya bukan seperti apa yang kutuliskan.

Jika puisiku tentang seseorang yang sedang jatuh cinta bukan berarti saya sedang kasmaran, begitu juga kalau menulis puisi tentang patah hati, bukan berarti aku sedang patah hati justru malah kadang sebaliknya.

Sejak dikomentari seperti itu aku kemudian menarik diri sejenak dari dunia maya sambil mencari tempat untuk sembunyi, tempat untuk menampung segala jenis tulisanku tanpa dibaca orang.

Kalau perlu jangan dibaca oleh orang yang kukenal karena kadang mereka bukannya mensupport hasil karya tetapi justru malah menjatuhkan.

Lalu, di tahu 2008 aku berkenalan dengan blog. Beberapa bulan selanjutnya tulisanku mulai banyak dan benar tidak ada orang yang berkomentar disana bahkan orang kukenal pun tak ada

Jadi, aku merasa mulai lega dan aman. Apa yang ada dipikiran sudah bisa dituangkan kedalam tulisan tanpa harus menumpukknya di pikiran dan yang terpenting gak ada yang bilang ‘lebay’.

Akan tetapi, perasaan itu sirna ketika tahu bahwa semua tulisan yang ada di blog itu hilang. Entah karena system atau karena apa, tapi blog saya saat itu benar-benar tidak bisa di akses. Sampai sekarang aku tidak tahu penyebabnya apa. Patah hati? Iya banget. Waktu itu belum paham tentang dunia blog, betul-betul  pure untuk menyimpan puisi saja.

Kejadian itu membuatku vacuum dari dunia blog selama beberapa tahun.

Ya enggak enaklah rasanya, masa iya hasil karya sendiri tiba-tiba hilang. Hasil pikiran yang selama ini tertuang dalam pikiran lenyap begitu saja tanpa sebab.

Baca Selengkapnya
Next Post:

Asa untuk Mamanesia

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Musdalifah
Tidak ada informasi member
pencilfilm-playpicturecalendar-fullscreen
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram