Eka Fitriani Larasati
momblogger illustrator asal Bandung, Indonesia. Menulis di blog pribadi www.mamajokaa.com dan www.artjoka.com

Kritik Sosial Tersembunyi dalam Anatomi Narasi Ruang Film Parasite (2019)

20 January, 2026

Film Parasite (2019) karya Bong Joon-ho bukan sekadar tontonan thriller atau drama keluarga biasa. Sejak awal perilisannya, film ini memancing diskusi luas karena kemampuannya menyelipkan kritik sosial tajam dalam cerita yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Salah satu kekuatan utamanya terletak pada cara film ini memanfaatkan ruang baik secara fisik maupun simbolik sebagai fondasi narasi. Lewat pengaturan ruang inilah pesan tentang ketimpangan kelas disampaikan secara halus, tetapi mengena.

Alih-alih menyampaikan kritik sosial secara verbal atau menggurui, Bong Joon-ho memilih pendekatan visual dan struktural. Penonton diajak untuk “membaca” ruang, rumah, tangga, jendela, dinding, hingga arah gerak karakter. Semua elemen ini membentuk anatomi narasi yang bekerja konsisten dari awal hingga akhir film.

Banjiha (반지하) keluarga Kim di awal scene Film Parasite (2019)

 
Film Parasite (2019) dibuka dengan visual jendela semi-basement, banjiha (반지하), keluarga Kim yang sejajar dengan jalan raya. Ki-woo (Choi Woo-sik) terlihat duduk sambil memegang ponsel, berusaha menangkap sinyal Wi-Fi gratis dari tetangga yang tiba-tiba terputus. Adegan sederhana ini langsung memberi gambaran tentang posisi sosial mereka: hidup bergantung pada sisa-sisa kenyamanan orang lain.

Tak lama kemudian, kamera memperkenalkan anggota keluarga Kim lainnya, Ki-jung (Park So-dam), sang ibu Chung-sook (Jang Hye-jin), dan Kim Ki-taek (Song Kang-ho). Kamera bergerak perlahan menelusuri seluruh sudut banjiha (반지하) mereka, lorong sempit, kamar mandi dengan toilet yang posisinya lebih tinggi dari lantai, serta kamar tidur yang padat dan berantakan.

Semua visual ini secara gamblang menyiratkan rapuhnya kondisi ekonomi mereka.

Narasi berlanjut pada pekerjaan sambilan melipat kotak pizza, lalu kamera mengarah ke lingkungan luar banjiha yang padat, semrawut, dan bising. Bahkan “pemandangan” dari jendela mereka pun ironis, orang mabuk yang buang air kecil, asap kendaraan, hingga semprotan disinfektan dari petugas fogging. Ruang hidup keluarga Kim tidak hanya sempit, tetapi juga terus-menerus mengingatkan mereka pada posisi sosial yang rendah.

Terlepas dari cerita tentang kesulitan ekonomi, Bong Joon-ho bersama Lee Ha-jun selaku production designer berhasil memperkuat pesan tersebut melalui desain ruang. Tak heran jika penonton ikut merasa sesak saat melihat rumah keluarga Kim, dan sebaliknya merasa lega ketika kamera berpindah ke rumah keluarga Park.

Mungkin muncul pikiran skeptis: “Tanpa tahu teori arsitektur pun, kita bisa langsung tahu mana rumah orang kaya dan mana rumah orang miskin.”

Itu benar.

Namun, Bong Joon-ho tidak berhenti pada perbedaan visual semata. Ia mengajak penonton bukan hanya melihat, tetapi merasakan. Jendela keluarga Kim yang sejajar dengan knalpot mobil dan kaki orang lewat bukan sekadar detail realistis, melainkan cara halus untuk merendahkan martabat manusia secara visual. Penonton tidak hanya tahu mereka miskin, tetapi ikut mencium bau polusi dan ketidaknyamanan melalui gambar.

Untuk memahami kecerdasan pendekatan ini, kita perlu melihat bagaimana kolaborasi Bong Joon-ho dan Lee Ha-jun membangun kritik sosial melalui anatomi narasi ruang.

Baca Selengkapnya
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Halo, !

Categories

More than 3500 female bloggers registered

PT. PEREMPUAN DIGITAL INDONESIA
Jakarta Selatan, Indonesia

tagcalendar-full
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram