Oleh: Nayra Q Azra (nra)
Teman - teman pernah nggak sih kalian berada di satu moment dimana kita lagi butuh banget di pahami tapi yang datang kata-kata yang justru terdengar "bener" atau pembenaran
Pas lagi ngerasa kesel, marah, kecewa, atau sakit hati sama teman…
terus pas disampaikan, jawabannya malah kayak gini
“Ya namanya manusia, pasti ada salah"
“Yang penting sabar ya”
“Ambil hikmahnya aja”
Secara kata bener sih, tapi yaa enggak gitu juga, bukannya kita merasa lega dengan kalimat itu tapi justru merasa aneh dengan cara orang ngeles dengan kata - kata bijak
Rasanya aneh banget kaan ?? seolah-olah, kesalahan yang harusnya diakui itu pelan-pelan berubah jadi sesuatu yang harus dimaklumi. Bahkan… dibenarkan
Dan di titik itu, kita mulai sadar ini bukan lagi tentang bijak atau tidak
Ini tentang ngeles
Ngeles yang gak kasar
Ngeles yang gak kelihatan
Ngeles yang dibungkus dengan kata-kata yang terdengar baik
Sampai kadang kita sendiri ragu
ini lagi dinasihati…
atau lagi diajak untuk diam?
Padahal beda tipis antara menguatkan diri
dan menghindari tanggung jawab
Dan mungkin, yang sering luput bukan pada kata-katanya…
tapi pada kejujuran di baliknya
Karena kata bijak bisa menenangkan,
tapi tanpa kejujuran, ia juga bisa jadi tempat paling nyaman untuk bersembunyi
Lalu, bagaimana Islam melihat ini?
Islam tidak pernah melarang manusia untuk lemah. Tidak juga menuntut manusia jadi sempurna. Tapi Islam sangat tegas dalam satu hal jujur pada diri sendiri.
Dalam banyak ajaran, kesalahan itu bukan untuk ditutupi, tapi untuk diakui dan diperbaiki
Dalam Islam ada konsep yang namanya muhasabah (mengoreksi diri) bukan mencari alasan, tapi mencari kesadaran atasa kesalahan itu.
Artinya, dalam Islam salah itu manusiawi
tapi juga membiarkan kesalahan tanpa refleksi, itu masalah
Bahkan dalam Al-Qur’an, sering kali yang dikritik bukan hanya perbuatan salah,
tapi juga sikap yang terus membenarkan diri
Karena sejatinya, yang berbahaya bukan orang yang salah tapi orang yang tidak merasa dirinya salah
Di sinilah kita perlu jujur apakah kata-kata bijak yang kita ucapkan benar-benar untuk memperbaiki diri? Atau diam-diam hanya jadi cara paling halus untuk menghindar?
Sebab pada akhirnya, Islam bukan hanya tentang berkata benar, tapi juga tentang berani menghadapi kebenaran meski itu tentang diri sendiri