fbpx

Pendakian Gunung Sumbing via Garung, Naik Ojeg Seru Abis!

16 March, 2022

Sudah lewat tengah malam, kami mulai bersiap untuk summit. Semua member ikut summit, jadinya tenda akan ditinggal tanpa penghuni. Artinya segala barang berharga siap kami bawa sampai puncak. Baiknya sih memang begitu agar tidak ada acara kehilangan.

Leader memimpin di depan karena lumayan hapal dengan medan. Malam itu amat cerah. Beruntungnya tidak turun hujan, meskipun anginnya lumayan kencang. Kami yakin cuaca akan cerah sampai puncak nanti. Trek awalnya tanah padat tapi berdebu, menanjak tiada henti. Ada batang-batang pohon kecil yang bisa kami manfaatkan untuk berpegangan. Di kejauhan sana terlihat kelap-kelip lampu senter pendaki yang sedang summit ke puncak Sindoro. Ah, indah sekali Sindoro berdiri dengan gagah ditambah dengan langit malam bersih hingga kami dengan mudah melihat hamparan bintang berkilau-kilau.

Saya sempat sering berhenti sejenak kemudian berbaring sedikit untuk menikmati langit dengan kilauan bintang. Tenang dan nyaman. Kehidupan di kota serasa palsu, padahal realita hidup. Ingin sekali rasanya berlama-lama di trek ini, cuma kepikiran sama badan yang sedang dibawa ini saja.

Pendaki lain mulai memacu sehingga langkah mulai kami percepat. Akhirnya kami tiba di pos 4 Kijing Rancak pukul empat pagi dan kami menyempatkan berfoto setitik di plangnya. Dikarenakan masih gelap yang saya tahu saat itu bahwa kami terus berjalan menyusuri tepi lembah-lembah yang mana kanan atau kiri terdapat rumput-rumput setinggi lutut. Kemudian satu jam berlalu, waktu subuh sudah masuk namun posisi kami masih jauh dari pos batu belah.

Memasuki pukul lima, langit mulai menampakkan birunya pertanda sunrise segera hadir. Makin lama matahari yang tepat berada di belakang kami mulai naik. Seketika puncak Sindoro menjadi merah bata. Ternyata Sindoro memang termahsyur dengan keindahan sunrise-nya karena mendapatkan langsung pantulan sinar matahari. Hamparan awan nan luas memanjakan mata. Alhamdulillah sedang berada di atas awan. Takjub sekali melihat bayangan gunung Sumbing memantul ke hamparan awan berbentuk segitiga, mirip dengan bayangan segitiga pyramid Kerinci.

Perlahan langit kian membiru, kami masih saja berjalan menyusuri tepian lembah. Kadang melewati batu-batu, kadang juga melewati rumput tinggi tapi masih dengan kemiringan yang curam. Hingga akhirnya tibalah di bukit belah. Wah akhirnya. Kami ngaso sejenak dengan menikmati roti selai kacang untuk sarapan. Dan terjadi lagi, di titik ini rasanya saya sudah cukup dengan berada di ketinggian ini. Mager banget untuk lanjutin sampai ke puncak kekawah yang katanya dikit lagi sekitar 20 menit sampai. Dengan segala rayuan dan tipu daya dari teman satu tim, akhirnya saya tetap lanjutkan perjalanan namun dengan sesantai-santainya.

Dua puluh menit berlalu akhirnya saya sampai juga di Puncak Kekawah Gunung Sumbing via Garung. Meskipun bukan tujuan, tapi saya usahakan saja demi teman satu tim buat foto bareng haha. Semua lelah yang terasa dari awal trek summit terbayarkan dengan pemandangan yang luar biasa indah. Langit biru-sebiru-birunya. Gunung Sindoro nampak jelas. Di kejauhan juga terlihat pucuk Slamet berdiri tegap. Para pendaki ternyata sudah ramai di puncak-puncak Sindoro. Adimul, Latief dan Awan memutuskan untuk lanjut ke Puncak Rajawali. Sedangkan saya memilih untuk menikmati Puncak Kekawah dan kawahnya Sumbing.

Lagi-lagi rasanya tidak percaya bisa berada di puncak Sumbing seperti ini. Sekeliling mata saya melihat-lihat, seperti terperangkap oleh hamparan awan luas tidak bertepi. Kemudian di sini lah kami, para penikmat Sumbing berada di secuil puncaknya. Begitu kecil raga ini, begitu luas kebesaran-Nya. Terharu ya pasti, bahagianya sungguh luar biasa. Perasaan yang sulit ditransformasikan lewat kata-kata, yang menjadi jawaban dari pertanyaan : mengapa naik gunung? Apa nikmatnya mendaki?

Sudah cukup puas dengan berleha-leha serta gogoleran di Puncak Kekawah. Akhirnya mulai perjalanan turun kembali ke area camp. Kurang lebih satu setengah jam kami butuhkan untuk sampai kembali di camp. Sungguh singkat daripada waktu perjalanan summit ya, padahal turunnya pakai style mager karena sering berhenti untuk berswafoto.

Salah satu yang saya kagumi dari Sumbing via Garung ini adalah savanna yang terhampar luas mengikuti lereng serta lembah perbukitannya. Beneran mirip dengan Rinjani, rasanya nostalgia Rinjani karena saking seringnya saya mengucapkan “ini mirip Rinjani”. Perjalanan turun ke camp tidak terasa berat seperti yang saya kira sebelumnya karena terbayarkan dengan pemandangan savanna yang indah. Terima kasih ya Sumbing. Tidak berekspektasi lebih, tapi disuguhi segala keindahannya hingga saya jatuh hati, suatu saat ingin kembali lagi.

Sesampainya di camp, kami berkemas kemudian memasak untuk makan siang. Semua bahan makanan yang tersisa kami habiskan di camp ini agar saat turun tidak bawa sisa makanan. Tidak lupa pula untuk sempatkan jajan gorengan dan minuman di warung yang tepat berada di belakang tenda kami. Makan bareng dalam kondisi abis turun summit pokoknya udah paling mantep meski panas-panas sekalipun.

Baca Selengkapnya

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Sonyaaa
Saya Sonyaaa, lingkungan tulis-menulis seperti sebuah self healing, disini saya berbagi cerita mengenai kenyamanan yang didapati dalam hiking, travelling, gardening, motivation dan homecreative. Today-Dream merupakan suatu wujud dari harapan-harapan. Mimpi-mimpi bisa nyata. Semoga bermanfaat.
pencilfilm-playpicturecalendar-fullscreen
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram