Akhir-akhir ini, media sosial ramai dengan satu tren yang terasa sederhana, tapi diam-diam menyentuh banyak orang keinginan untuk kembali ke masa lalu.
Ada yang bilang, 2026 terasa seperti 2016. Lagu-lagu lama diputar kembali, gaya lama dipakai lagi, dan suasana lama dihidupkan ulang seolah-olah, masa lalu selalu lebih baik dari sekarang.
Tapi kalau aku boleh jujurā¦
aku tidak ingin kembali ke 2016
Kalau harus memilih, aku ingin kembali lebih jauh ke thn 2001
Bukan karena tahunnya istimewa.
Tapi karena ada sesuatu di sana yang tidak lagi kutemukan hari ini
Tahun-tahun itu hidup terasa utuh..
Ada rumah yang tidak perlu di cari. Ada orangtua yang kehadirannya tidak pernah di ragukan. Ada hari-hari berjalan pelan tanpa beban menjadi seseorang
Dan yang paling aku ingat
perasaan cukup, tanpa harus memiliki banyak hal
Mungkin, selama ini kita salah mengira
Kita bilang rindu masa lalu, padahal yang kita rindukan bukan waktunya.
Kita hanya rinduā¦
versi diri kita yang dulu belum terlalu lelah memahami hidup
Sekarang, semuanya berjalan lebih cepat
Waktu seperti tidak memberi jeda
Percakapan terasa lebih singkat, hubungan lebih rapuh, dan kelelahan datang tanpa permisi
Kita punya lebih banyak dari sebelumnya
lebih banyak akses, lebih banyak pilihan, lebih banyak cara untuk terlihat bahagia
Tapi diam-diamā¦
hati kita justru lebih sering merasa kosong
Lalu di titik itu, aku mulai bertanya pada diri sendiri
apakah wajar jika kita terus ingin kembali?
Islam tidak pernah mengajarkan kita untuk mundur
Waktu diciptakan untuk berjalan
Dan hidup, dengan segala bentuk kehilangan dan perubahan, adalah bagian dari ujian yang tidak bisa dihindari
Rasa rindu itu manusiawi...
Keinginan untuk kembali ke sesuatu yang pernah membuat kita tenang⦠itu juga manusiawi
Tapi kita tidak diminta untuk tinggal di sana
Karena ketenangan tidak pernah benar-benar berada di sebuah tahun
Ia tidak tinggal di 2001...
Dan tidak pula di masa masa yang sudah kita lewati
Ketenangan⦠selalu punya satu arah
Dekat, atau jauh..
itu bergantung pada seberapa dekat hati kita dengan Tuhan
Mungkin, yang kita cari selama ini bukanlah masa lalu
Kita hanya sedang berusaha menemukan kembali
rasa yang dulu pernah singgah
rasa yang membuat hidup tidak terasa berat untuk dijalani
Dan mungkin, yang perlu kita ulang bukan waktunya
Tapi cara kita hidup
Cara kita mensyukuri hal kecil, cara kita mencintai tanpa syarat yang rumit, dan cara kita kembali⦠tanpa merasa asing di hadapan-Nya
Aku tahu, aku tidak bisa kembali ke tahu itu
Dan mungkin, memang bukan itu yang seharusnya aku lakukan
Tapi setidaknya, aku bisa berhenti mencari waktu yang sudah pergi
dan mulai membangun kembali makna yang sempat hilang
Karena pada akhirnya, yang kita rindukan bukan masa lalu
Kita hanya sedang mencari jalan pulangā¦
ke hati yang pernah merasa cukup