Halo, Kawan Pembaca!
Pernah tidak sih, kalian buka media sosial, lalu merasa pusing tujuh keliling melihat kolom komentar? Isinya orang marah-marah, saling "sikut" argumen, dan membawa-bawa nama Tuhan seolah-olah Tuhan butuh pengacara hebat di Mahkamah Konstitusi Jagat Raya.
Kalau kamu mulai lelah dengan hingar-bingar agama yang sering kali cuma jadi "baju" tapi lupa "isinya", maka buku karangan Emha Ainun Nadjib (Mbah Nun) yang satu ini, "Tuhan Itu Dikenali Bukan Dibela", adalah obat sakit kepala paling mujarab tanpa efek samping mengantuk, tapi efek sampingnya bikin "melek" hati.
Mbah Nun, dengan gaya bahasanya yang khas—kadang menohok, kadang jenaka, tapi selalu penuh kasih—mengajak kita duduk sejenak. Beliau mengingatkan sebuah hal yang sering kita lupakan di era viral ini: Hidup itu bukan lomba panjat pinang duniawi.
Coba bayangkan, kita sering kali ngos-ngosan memanjat pinang bernama "karier", "popularitas", atau "siapa yang paling suci". Padahal