fbpx

Hati-Hati Memilih Pasangan, Negara Maju dimulai dari Pernikahan

6 April, 2023

Pernahkah kamu berpikir jika sebuah negara bisa maju dimulai dari pernikahan? Jika belum pernah terpikirkan atau sempat memiliki pemikiran tersebut, yuk buka hati dan pikiran. Ini akan lebih mudah diterima jika kamu sudah memahaminya.

Kamu pasti bertanya-tanya, kok bisa negara bisa maju dimulai dari pernikahan? Jawabannya sederhana. Coba deh kamu ingat-ingat siapa saja yang memimpin sebuah negara, mulai dari presiden, menteri, dan petinggi jajarannya. Mereka yang memimpin negara hasil dari didikan atau pendidikan yang diberikan oleh siapa?

Jawabannya pasti pendidikan formal, yang dididik oleh guru. Itu memang benar, tapi ada pendidikan yang lebih penting dan memiliki pengaruh, tidak lain adalah keluarga. Ibu dan bapak yang mendampingi selama belasan tahunlah yang memiliki pengaruh besar dalam mendidik. Kok bisa? Baca terus artikel ini, ya.

Dimulai dari Pernikahan

Saat seorang memutuskan menikah, ia akan bersama dengan pasangannya dalam mengambil keputusan keluarga. Setelah terjadinya pernikahan, keturunan akan lahir dari pernikahan tersebut. Tentunya, keturunan yang lahir dari pernikahan inilah, pendidikan utamanya keluarga.

Jika seorang anak tumbuh di orang tua yang otoriter, kemungkinan besar ia akan menjadi anak yang otoriter, sesuai dengan cara orang tuanya mendidik. Begitu pun jika seorang anak tumbuh di orang tua yang demokrasi, anak akan tumbuh besar menjadi orang yang demokrasi, mengutamakan segalanya dengan bermusyawarah.

Begitu pun seorang pemimpin negara bisa memimpin negaranya tidak lain karena pengaruh dari pendidikan orang tuanya. Bayangkan saja, jika presiden tumbuh dengan didikan otoriter, ia akan memimpin rayaknya dengan otoriter.

Pendidikan formal yang dipelajari sejak dini tidak begitu mempengaruhi seseorang, karena kebanyakan pendidikan formal lebih mengutamakan nilai daripada kemampuan. Sebut saja, di era seperti ini, hasil dari pendidikan yang didapat, lebih banyak menorehkan pemimpin yang serba bisa, daripada pemimpin yang ahli. Hasilnya tentu tidak maksimal.

Apakah pembahasan singkat di atas masih bisa dipahami? Atau kamu masih bingung? Pada intinya semua anak adalah pemimpin. Untuk dirinya sendiri ataupun untuk orang lain. Meski demikian, semua bergantung pada keluarga yang dimulai dari pernikahan. Itulah pentingnya berhati-hati dalam memilih pasangan. Karena pasangan akan menentukan jalan mana yang akan kamu tuju.

Hati-Hati Memilih Pasangan

Tidak bisa dipungkiri, memilih pasangan itu ibaratnya memilih berlian di antara tumpukan sampah. Salah saja dalam memilih pasangan hidup, keluarga sakinah mawadah dan rahmat yang menjadi tujuan akan sirna di tengah jalan. Namun, jika pasangan hidup yang dipilih adalah orang yang tepat, insyaallah menuju surga-Nya pun akan lebih mudah.

Memilih pasangan itu tidak hanya sekadar dari apa yang dilihat dan didengar. Sering kali apa yang dilihat hanya penampakan yang ingin diperlihatkan, istilahnya pencitraan. Begitu juga dengan apa yang didengar, jangan mudah terlena dengan omongan orang yang memuji, bisa jadi hanya untuk menutupi aib.

Jika kamu sedang mencari pasangan, cobalah untuk buka hati dan pikiran. Kamu bisa merasakan mana calon pasangan yang tepat atau tidak untukmu. Kamu bisa menggunakan logika. Hal-hal yang tidak kamu sukai, lalu ada pada calon pasanganmu, cobalah untuk mencari tahu kebenarannya. Jangan mudah menerima, belum tentu calon pasanganmu bisa berubah.

Kebanyakan orang maunya diterima apa adanya, tapi tidak mau memperbaiki diri. Sayang rasanya, jika niat hati ingin berkeluarga untuk mencari rida-Nya, harus dihabiskan dengan menunggu pasangan berubah. Jarang ada orang yang mau berubah, kecuali dari dalam dirinya sendiri ada niat yang kuat.

Pasangan yang kamu pilih inilah yang akan menentukan keturunan selanjutnya. Keturunanmu akan dibentuk oleh karakter dari pasangan kamu. Kamu memilih pasangan yang temperamen, tentunya ia akan mudah marah ketika memberi pengasuhan. Itu tidak akan terelakkan. Jika anaknya mengganggu, ia pun akan mudah marah. Padahal sejatinya mendidik anak adalah dengan kelembutan sesuai yang diajarkan Al-Quran dan hadis.

Kesimpulan

Pembahasan sederhana di atas cukup mudah dipahami, bukan? Carilah pasangan yang satu visi misi dan tujuan. Perbanyaklah berteman dengan lawan jenis untuk mengetahui dan mengenal seperti apa yang cocok untukmu. Jika kamu sudah menemukan yang tepat, segeralah untuk menikah. Bersama-sama menuju keluarga sakinah mawadah dan rahmat.

Mencari pasangan yang tepat itu tidak mudah, butuh waktu dan proses. Jangan takut dibilang perawan tua. Sejatinya pernikahan bukanlah perlombaan siapa lebih cepat menikah. Melainkah ibadah sepanjang hidup.

Baca Selengkapnya
Previous Post:

MENUNGGU THR

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Diyah Ayu Nur Halimah
Penulis-Content Creator

Halo, !

Categories

More than 3500 female bloggers registered

PT. PEREMPUAN DIGITAL INDONESIA
Cyber 2 Tower 11TH Floor JL HR Rasuna Said Jakarta Selatan

calendar-full
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram