fbpx

Self-Healing Dengan Menulis Blog

31 October, 2021

enulis adalah self-Healing terbaik untuk aku. Kebiasaan menulis sejak masih duduk dibangku sekolah menjadi salah satu pelarianku untuk mengungkapkan keluh kesah di dada.

Beberapa pengalaman buruk masa kecil menjadi boomerang bagi kesehatan mental. Berulang kali mengalami perundungan di sekolah menjadikanku pribadi yag tertutup dan senang menyendiri.

Kejadian itu tidak berani kuceritakan ke guru disekolah alasannya karena ketika bapak dan ibu guru mengetahui hal tersebut maka beliau akan menghukum temanku. Tentu saja itu akan membuat mereka marah, bukannya malah berhenti membully justru mereka akan semakin menjadi.

Kejadian itu membuatku kadang berdiam diri dikamar menutup diri dari orang lain dan selalu menghindari ajakan keluar dari teman-teman sekolah. Bullying kadang tak terhindarkan dan sasaran empuknya adalah aku. Kenapa? Entahlah mungkin karena aku adalah murid paling muda di antara semua siswa dikelas.

Menuangkan kegelisahan dalam bentuk puisi adalah salah satu caraku berteriak tanpa bersuara. Memendam hanya akan menjadi penyakit hati jadi aku mencoba mengalirkan perasaan marah dan sedih itu dalam sebuah tulisan. Mengeluarkan energy negative melaui tulisan adalah cara terbaik yang pernah aku lakukan daripada berteriak di pinggir pantai.

Menulis puisi adalah caraku bersembunyi di balik makna setiap kata yang tak mampu aku utarakan dengan ujaran.  Kata-kata kiasan yang sarat makna adalah pintu keluar dari emosi yang bergejolak didalam dada.

Beberapa puisi tertulis indah di buku kecil yang selalu aku bawa dalam tas. Kadang kalau lagi sendiri aku menuliskan sesuatu disana, entah itu puisi atau cerita ataupu apa saja hal yang aku alami seharian ini.

Kegiatan menulis itu terus berlanjut sampai memasuki masa perkuliahan. Di mana sosial media mulai hadir mengisi keseharian mahasiswa baru saat itu. Termasuk juga aku, kebiasaan menulis bukan lagi di buku tetapi menulis di status sosial media.

Menulis puisi itu candu bagiku, apa yang terlintas dipikiran saat itu, aku langsung menuliskannya meskipun itu hanya satu atau dua bait saja. Sosial media ini menjadi wadah bagi hobi menulisku dan tentunya itu sangat membantu karena bisa menulis dari smartphone.

Kupikir ini akan mudah ternyata tidak. Beberapa kali mendapatkn verbal bullying di sosial media karena menurut mereka puisinya ‘lebay’ . Kejadian itu menjadi trigger dari trauma masa kecil muncul kembali.

Hingga akhirnya aku memutuskan untuk tidak bersosial media beberapa saat sampai aku bertemu dengan platform menulis lainya yaitu blog. Perjalanan menulis blog pun dimulai dari sini.

Baca Selengkapnya

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Musdalifah
Tidak ada informasi member
pencilfilm-playpicturecalendar-fullscreen
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram