Oleh: Nayra Q. Azra
Ada satu hal kecil yang sering terjadi dalam ruang-ruang kebersamaan kita, tapi jarang banget benar-benar kita sadari dampaknya
Ketika seseorang yang lama tidak hadir akhirnya kembali
Reaksi pertama yang sering muncul bukan selalu pelukan kehadiran, tapi pertanyaan āKe mana saja kamu selama ini?ā
Pertanyaan itu mungkin terdengar wajar dan kadang bahkan dianggap bentuk perhatian. Tapi tidak semua orang yang kembali sedang siap untuk langsung menjelaskan dirinya. Ada yang datang dengan hati yang masih ragu, ada yang kembali sambil mencoba membaca ulang apakah ia masih diterima, ada juga yang sebenarnya hanya butuh ruang untuk merasa āmasih bagian dari siniā, sebelum diminta menjelaskan ākenapa dulu pergiā
Di titik itu, yang pertama kali dibutuhkan sering kali bukan jawaban, tapi suasana
Sebuah sapaan yang ringan
Obrolan yang tidak menekan
Sikap yang tidak membuatnya merasa sedang diuji
Karena bagi sebagian orang, momen pertama saat kembali bukan tentang menjelaskan masa lalu, tapi memastikan bahwa ia masih punya tempat di masa kini. Dan mungkin di situlah kita sering luput, ko
Kita terlalu cepat masuk ke pertanyaan, sebelum memberi ruang untuk rasa nyaman itu tumbuh kembali
Padahal hubungan manusia tidak selalu bergerak dari penjelasan ke kedekatan. Kadang justru sebaliknya kedekatan dulu, baru penjelasan menyusul dengan sendirinya
Bukan karena pertanyaannya itu salah. Tapi karena urutan pertemuannya bisa menentukan apakah seseorang merasa diterima, atau justru kembali menjauh
Mungkin yang perlu kita rawat bukan hanya kehadiran orang lain, tapi juga cara kita menyambut kehadiran itu kembali. Agar tidak ada yang merasa harus ālulus ujianā hanya untuk menjadi bagian dari lingkaran yang dulu ia kenal