fbpx

Thrift Shopping, Aksi Peduli Bumi dari Dalam Lemari

26 October, 2021

Siapa yang hari ini tidak mengenal Thrift Shopping ? Semua orang khususnya anak muda sedang menggandrungi tren satu ini.Jika dulu berbelanja pakaian bekas dipandang sebelah mata, berbeda dengan kondisi saat ini. Berkat berputarnya tren fesyen ke model pakaian lawas, membuat thrifting digandrungi anak-anak muda. Di Indonesia sendiri, thrifting mulai naik daun semenjak pandemi hingga menjadi pop culture. Awalnya kegiatan tersebut didorong motif ekonomi untuk menekan pengeluaran membeli kebutuhan sandang, terutama saat pandemi dimana pendapatan masyarakat cenderung menurun.

Tingginya permintaan pakaian bekas pada segmen pasar anak-anak muda kemudian menumbuhkan peluang bisnis yang manis. Kini, banyak penjual pakaian bekas baik secara online maupun konvensional di dalam negeri. Tak hanya pakaian, jenis barang yang dijajakan kian beragam, mulai dari sepatu, tas, hingga aksesori, membuat tren thrifting kian menarik.

Dilihat dari kaca mata ekonomi, thrifting telah tumbuh menjadi sebuah ekosistem bisnis yang bernilai fantastis. Menurut laporan IBISWorld misalnya, industri thrifting memiliki nilai mencapai 14,4 Miliar US dolar atau sekitar 205,149 triliun rupiah. Berbagai sumber memprediksi nilai tersebut kemungkinan besar masih akan terus menanjak pasca pandemi nanti.

Studi yang dilakukan peneliti asal  Chonbuk National University tentang preferensi konsumen terbaru menunjukkan bahwa kaum milenial suka berbelanja dan bangga menggunakan barang bekas. Menurutku hal ini rasional, dikarenakan anak-anak muda begitu menikmati proses mendapatkannya karena menantang, berbeda dengan membeli pakaian baru. Aku senang sekali menyaksikan euforia kawan-kawan seusiaku memamerkan kreasi Outfit of The Day (OOTD) bertema pakaian bekas di akun sosial media masing-masing.

Jika dulu pakaian bekas dipandang sebelah mata karena harganya yang murah, sebaliknya kini anak muda justru akan merasa berhasil jika mendapatkan barang dengan harga semurah mungkin. Tak jarang aku menyaksikan kawan satu tongkrongan sering adu murah barang thrift yang mereka kenakan, yang paling murah akan jadi pemenangnya, meski tanpa hadiah.

Bagaimana dengan diriku, sudah berapa lusin pakaian bekas di dalam lemari ? Eits... Jangan tanya, jawabannya nihil. Kendati pernah berkecimpung di dunia thrifting tak lantas membuatku menggilai belanja pakaian bekas. Entah mengapa aku tidak bergeming sedikitpun untuk ikut meramaikan tren yang sedang marak.

Hingga suatu hari, seorang kawan yang merupakan aktivis lingkungan memberiku perspektif baru. Diutarakannya, tren thrifting tidak hanya gaya baru dalam berbelanja kebutuhan sandang, lebih dari itu tumbuhnya tren tersebut berdampak positif terhadap lingkungan, terlebih dalam mendukung gerakan Net-Zero Emissions (NZE) yang bertujuan mengurangi produksi volume emisi karbon yang merupakan penyebab krisis iklim. Tak hanya itu, melalui NZE, diharapkan emisi yang diproduksi manusia bisa diserap secara alamiah oleh pohon, laut, dan tanah sehingga tak ada yang menguap hingga ke atmosfer.

Bagaimana Thrifting Berkontribusi Menekan Emisi ?

 

 

 

 

Baca Selengkapnya

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Julita Hasanah
sedikit banyak membagi pengalaman pendidikan, mendapatkan beasiswa studi master, serta pandangan hidup.
pencilfilm-playpicturecalendar-fullscreen
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram