fbpx

Victoria’s Secret & Body Image

22 July, 2021

Siapa yang tidak kenal dengan Brand Lingerie dengan salah satu fashion show paling bergengsi sejagad? Yap! Victoria’s Secret! Berawal dari tidak di adakannya Victoria’s Secret Fashion Show 2019 yang berujung pada perubahan brand image dari bisnis lingerie yang berdiri sejak tahun 1995 itu. Kini Victoria’s Secret telah mempensiunkan para model Angels-nya. So, no more Angels! Victoria’s Secret kini digantikan menjadi VS Collective yang terdiri dari tujuh perempuan yang sukses di masing-masing bidangnya, yakni jurnalis Amanda de Cadenet, Pemain Ski Eileen Gu, Aktivis LGBTQA+ Paloma Elesser, model transgender pertama Victoria’s Secret Valentina Sampaio,  model sekaligus aktivs kesehatan mental Adut Akech, serta aktris dan pengusaha Priyanka Chopra Jonas.

 

Martin Waters, mantan kepala  Victoria’s Secret mengatakan bahwa ;

“Ketika dunia sedang berubah, kami (Victoria’s Secret) terlalu lambat untuk merespon”.

Ia juga mengatakan,

Kita perlu berhenti menjadi apa yang pria inginkan dan menjadi apa yang perempuan inginkan.”

Ini merujuk pada perubahan value yang mendukung inklusifitas dan body positivity. Berikut dengan strategi permasaran  Victoria’s Secret yang kini mengikuti tren kampanye tentang body image yang digalakan di seluruh dunia. Victoria’s Secret sekarang tidak hanya tentang bikini, namun lingerie yang nyaman dipakai untuk segala ukuran dan segala jenis bentuk tubuh. Ini di buktikan dengan postingan Instagram Victoria’s Secret yang mengkampanyekan Hari Ibu 23 April kemarin.

Tetapi, selain menuai dukungan, perubahan ini juga menuai banyak kontroversi dan komentar terutama dari kalangan model dan mereka yang beruhubungan dengan industri fashion. Baru-baru ini dunia maya dihebohkan dengan postingan seorang influencer sekaligus model yang membagikan opininya tentang perubahan brand image pada Victoria’s Secret. Ia mengomentari tentang perbedaan ketika Victoria’s Secret masih memiliki Angels dan model Victoria’s Secret sekarang yang lebih diversity. Di kutip dari postingan Instagram Story-nya ia menulis bahwa Victoria’s Secret Angels dan Model Victoria’s Secret  saat ini “Ga pantes sepanggung”

Rupanya, opini yang dianggap negatif oleh banyak netizen menarik sejumlah influencer dan aktivis body positivity untuk berkomentar bagaimana opini dari model tersebut memaksakan beauty standard dan salah mengartikan body positivity yang selama ini dikampanye kan oleh banyak aktivis. Lantas apa itu beauty standard dan body image?

Beauty standard atau standar kecantikan adalah sebuah kosntruk sosial yang dibuat untuk menspesifikasikan “kecantikan” dalam kategori tertentu. Jika kamu sering mendengar istilah “Perempuan cantik adalah putih, kurus,mancung, dan tinggi semampai”. Itulah beauty standard, dan tidak hanya perempuan namun laki-laki juga di tuntut untuk berbadan berotot, tampan, dan sebagainya. Kenapa beauty standard sangat toksik dan tidak diperlukan dalam kehidupan kita sehari-hari? Karena beauty standard adalah definisi kecantikan dari kacamata orang lain. Maka bagi mereka yang mati-matian mengikuti beauty standard bisa berdampak sangat buruk. Mereka akan melakuan apapun untuk memenuhi ekspektasi orang lain. Melakukan diet ketat, meminum obat-obatan, hingga sesuatu yang bisa saja mengancam kesehatan dan jiwa. Itu mengapa beauty standard sangat bertetangan dengan konsep self-love (mencintai diri sendiri).

Kemudian, apa hubungan semua ini dengan body image?

Semua hal-hal yang telah dipaparkan sebelumnya sangat berhubungan erat dengan bagaimana persepsi kita melihat tubuh kita sendiri serta bagaimana persepsi orang lain terhadap tubuh kita. Beauty standard mengharuskan semua orang memiliki “tubuh” yang sama agar masuk pada kategori cantik atau tampan. Padahal sejatinya setiap orang lahir dengan kondisi fisik dan mental yang berbeda-beda. Tidak hanya itu, privilege serta lingkungan dari setiap orangpun berbeda-beda. Tidak semua orang mampu untuk mencapai beauty standard bahkan ketika mereka sudah berusaha mati-matian. Oleh karena ini body positivity atau gerakan untuk melihat tubuh kita secara positif di galakan dimana-mana.

Gerakan ini mengingatkan kita kembali bahwa kesehatan fisik dan mental adalah yang paling utama.  Mengingatkan kembali bahwa setiap orang diciptakan unik apapun warna kulit, ukuran, dan bentuk badannya. Bahwa normal memiliki tubuh curvy, normal memiliki stretchmark, normal memiliki jerawat, dan sebagainya. Meski begitu, body positivity masih sering disalah artikan bahwa mereka yang mengkampanyekan gerakan ini mendukung orang untuk tidak berolah raga dan tidak berusaha untuk menjaga tubuh mereka sendiri. Padahal kita semua tahu bahwa banyak orang diluar sana sudah berusaha untuk merawat kulit mereka namun masih tetap berjerawat, atau yang sudah berolah raga secara rutin serta menjaga makan namun masih tetap memiliki tubuh gemuk.

Itu membawa kita pada alasan kenapa tidak baik mem-bully orang yang gemuk. Menurut WHO, pada tahun 2016, sebanyak 2 milyar orang dewasa di seluruh dunia mengalami kelebihan berat badan dan 650 juta diantaranya  mengalami obesitas. Apakah semua orang yang kelebihan berat badan dan obesitas disebabkan karena gaya hidup yang tidak sehat? Tidak semua. Ada beberapa alasan kenapa orang bisa kelebihan berat badan dan obesitas;

1. Jumlah masuk dan keluarnya kalori tidak seimbang.

Ketika seseorang lebih banyak makan daripada melakukan aktifitas fisik, maka kalori yang masuk ke dalam tubuh lebih banyak. Selain di pengaruhi gaya hidup dan perilaku, faktor lain seperti pekerjaan, cuaca, dan lainnya juga berpengaruh. Contohnya, kegitan fisik antara petugas lapangan dan orang yang berkerja di kantor akan berbeda. Kemudian contoh lainnya yang lebih faktual saat ini adalah hampir semua orang berkerja dari rumah karena pandemi. Aktifitas fisik akan menurun, dan sebagai bentuk coping mechanism terhadap keadaan sekitar, kita akan lebih sering makan dan ngemil daripada biasanya. Karena dirumah, makananpun lebih mudah di dapatkan.

2. Pengaruh Genetik

Jika kamu penasaran kenapa kamu sulit untuk menurunkan berat badan meskipun sudah diet dan berolahraga dengan keras? Mungkin itu adalah pengaruh genetik. Ciri-ciri kamu kelebihan berat badan karena genetik adalah:

  • Salah satu ayah atau ibumu juga kelebihan berat badan, maka ada potensi gen menurun padamu.
  • Kamu sudah kelebihan berat badan sejak kecil
  • Berat badan tidak turun secara signifikan meskipun kamu sudah berolahraga dan diet

3. Pengaruh lingkungan

Alasan ketiga adalah pengaruh lingkungan. Hal ini berhubungan erat dengan privilege. Gaya hidup seperti apa yang kamu terapkan, pekerjaan apa yang kamu punya, makanan apa yang dimakan, mampu berolah raga dengan sesuai atau tidak. Tidak semua orang memiliki lingkungan yang mendukung untuk tetap sehat dan berbadan ideal.

4. Kesadaran Olahraga

Kesadaran dan kemampuan berolahraga ini jelas mempengaruhi berat badan. Ada yang menganggap olahraga itu penting dan ada juga yang tidak. Ada pula yang tahu olahraga itu penting tapi tidak bisa melakukannya. Misalnya orang dengan kondisi fisik tertentu, atau pekerjaan yang tidak bisa memberikan waktu untuk berolahaga. Ibu rumah tangga misalnya. Seringkali ibu rumah tangga dibebankan peran yang lebih berat dan tugas domestik yang tidak ada habisnya hingga tidak memiliki waktu untuk berolah raga.

5. Kebiasaan ngemil

Kemudahan orang mendapatkan cemilan membawa kita pada kebiasaan buruk. Yaitu ngemil. Ngemil sambil belajar, sambil bekerja, dan sambil menonton TV. Kita bisa menggantinya dengan cemilan sehat, tapi tidak jarang cemilan sehat atau yang berlabel sehat akan membutuhkan biaya dan usaha yang lebih, selain itu dibarengi dengan kemudahan untuk membeli cemilan. Tak jarang cemilan di jual di banyak tempat dengan harga murah, dan memiliki kandungan gula/karbo/garam yang tinggi. Ironisnya, akses pada makanan dan cemilan sehat justru menjadi “ekslusif” dan lebih mahal.

6. Keadaan mental

Jika kamu pernah sedih, kemudian membeli makanan manis seperti es krim atau cokelat untuk membuat perasaanmu lebih baik. Maka itu adalah emotional eating. Diamana keadaan emosi dan mood kamu mempengaruhi bagaimana kamu makan. Stress, depresi, dan emosi-emosinya berpegaruh pada pola makan. Ada yang berefek tidak mau makan sama sekali, dan ada juga yang makan terus menerus. Pada kasus ini makan adalah coping mechanism dalam menghadapi stres. Makan membuat mood merasa lebih baik. Lebih ekstrim lagi, pada orang yang sedang mengalami depresi, makan mungkin akan menyelamatkan nyawanya.

Jadi, tidak semua orang yang kelebihan berat badan di pukul rata di cap bahwa mereka malas berolah raga dan menjaga makan. Perkara body image ini lebih kompleks dari itu dan terlalu banyak faktor yang mempengaruhinya. Maka dari itu konsep utama body positivity tidak lain adalah self-love. Menerima dan mencintai tubuh kita sambil berusaha menjada tubuh dan jiwa kita tetap sehat. Menanamkan dalam diri kita bahwa setiap individu, warna kulit,bentuk badan, dan ukuran itu unik dan berharga serta menghargai orang lain.

Sumber:

Victoria’s Secret Swaps Angels for ‘What Women Want.’ Will They Buy It?

Why people become overweight

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Kharisma Sumiati Rahmania
Content Writer | Copywriter | Digital Marketing
pencilfilm-playpicturetagcalendar-fullscreen
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram