fbpx

Agar Resolusi Tahun Baru Tidak Terlupakan Setelah Tiga Bulan

February 11, 2021

Tahun baru itu memang “lembar bersih” yang membuat orang jadi lebih hopeful termasuk dengan dirinya sendiri. Meskipun memang banyak yang bilang “mulai itu bisa kapan saja, nggak usah tunggu tahun baru”, tetap saja, bagi saya, tahun baru itu semacam kesempatan untuk memulai lagi.

Nggak heran, saya juga termasuk orang yang gemar memulai sesuatu di awal tahun. Nge-blog lagi, contohnya. Tahun baru menjadi semacam waktu reset untuk saya: selain sudah liburan akhir tahun, juga memberikan imaginary blank slate untuk memulai, nggak perlu khawatir dengan kegagalan-kegagalan kemarin ahahaha….

Selain itu, tentu saja ada hal klasik yang biasa dibuat di tahun baru: resolusi. Mungkin ada yang bilang resolusi itu klise, tapi saya bagi saya resolusi adalah cara untuk me-reset. Nggak pernah kumplit-plit selesai dengan ideal, namun tetap bagus karena saya mencoba hahaha.

Tahun ini saya ingin fokus dan menyederhanakan tujuan. Lagipula, menyayangi diri sendiri itu butuh skills. Merencanakan adalah salah satunya--setelah setiap tahun seringkali berhenti di tengah jalan.

Mengubah Cara Pandang

Dua puluh hari lebih berjalan di tahun 2021, saya merasa saat ini arahnya bagus. Nggak tahu ya kalau sudah dilempar kerjaan ekstra dan deadline-deadline-nya yang kadang suka agak “lucu”. 😅 Tapi sejauh ini saya senang masih bisa patuh dengan hal-hal yang ingin saya lakukan setiap hari.

Faktor utama yang membuat saya bisa "patuh" adalah mencoba mengubah pendekatan saya selama ini. Iya, kayaknya ada yang salah dengan cara pedekate saya sama si resolusi tahun baru, jadi tahun ini saya mulai dengan:

FOKUS PADA INPUT, BUKAN OUTPUT

Sebelumnya, sulit bagi saya untuk melakukan ini. Saya cenderung memberikan “targetan” kepada diri sendiri, karena kalau tidak ada capaiannya, rasanya nggak asyik dan jadi kurang semangat.

Padahal, hal ini juga yang bisa jadi bumerang: karena tidak tercapai, semangat pun hilang.

Apa pasal?

Ini karena target saya biasanya berbentuk output, angka yang “harus tercapai dan dilakukan”. Misalnya 52 post blog, mengurangi 5 kg berat badan, tabungan sampai sekian juta di tahun itu, dan sebagainya. Karena setelah itu saya menuliskan action plan, saya merasa sudah melakukan hal yang benar.

Lanjutannya ada di blog saya, ya. Check the link!

Baca Selengkapnya

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Mega Aulia Insani
A regular office employee who loves writing and fragrance. Writing blog as a form of her old dreams: becoming a magazine editor.
pencilfilm-playpicturecalendar-fullscreen
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram