fbpx

Meroketnya Harga Cabai dan Perubahan Iklim, Apa Hubungannya?

Dari majalah Bobo, saya jadi tahu kalau “pedas” itu bukan rasa, melainkan hanya sebuah sensasi terbakar karena adanya rangsangan yang kuat di ujung lidah.
Kelompok rasa yang sebenarnya, ya cuma lima: manis, asam, asin, pahit dan umami.
Lucunya, orang Indonesia sangat keranjingan dengan sensasi pedas yang menyiksa mulut dan telinga ini (termasuk saya!). Makanan pedas jadi favorit sejuta umat. Cabai is life!
Tapi… sadar nggak sih, harga cabai sering banget naik? Balapan dengan harga daging sapi! Di kota saya, sekilonya pernah mencapai Rp. 120.000. Kalau lagi mahal begini, jiwa Minang saya meronta. Tahan-tahan dulu lah masak sambalado, rendang, asam padeh, dkk.
Adik saya yang punya warung makan kecil-kecilan, lebih ngenes lagi. Kelihatan lesu setiap kali harga cabai melejit. “Tekor”, katanya. Modal yang harus dikeluarkan untuk membeli bahan baku jadi membengkak, padahal keuntungan yang diambil cuma sedikit. Mau naikan harga? Wah...bisa-bisa pelanggan malah cek warung sebelah.
Setali tiga uang, abang-abang ketoprak yang biasa keliling komplek juga jadi agak medit. Tidak menerima permintaan tambahan cabe rawit. Padahal, Bapak saya lebih suka bumbu kacang yang pedas menggigit.
“Cabe lagi mahal, Pak”, kata si abang membela diri. Ah, Bapak saya kadang-kadang memang tidak sensitip.
Hmm…ternyata semua orang jadi repot ya kalau harga cabai naik.
Kira-kira, kenapa sih masalah ini bisa terjadi?
Baca Selengkapnya
Next Post:

Work In Malaysia

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Turseena Yahya
Tidak ada informasi member
pencilfilm-playpicturetagcalendar-fullscreen
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram